Kurikulum Pendidikan

Pengaruh dan Keterkaitan Bahasa Inggris Terhadap Pendidikan Karakter di SMK 4 Sarolangun
oleh : Benpani, .Pd.I

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Dalam berkomunikasi bahasa merupakan suatu keharusan dan modal yang mampu menunjukkan identitas diri. Baik dari situasi formal maupun non formal. Bahkan bahasa yang dianggap sebagai budaya berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak anak usia dini. Seseorang mulai mengenal bahasa sejak di lingkungan keluarga, kemudian berlanjut ke lingkungan sekolah, dan masyarakat. Ini semua yang disebut lingkungan pendidikan. Lingkungan pendidikan memiliki pengaruh yang besar dalam pendidikan anak, karena proses pendidikan selalu berlangsung dalam lingkungan tertentu yang berhubungan dengan ruang dan waktu, karena hal tersebut lingkungan pendidikan harus diciptakan efektif dan semenarik mungkin terlebih mampu memberikan kontribusi lebih terhadap siswa, lalu bagaimana proses pendidikan yang berlangsung diluar sekolah, tentu saja besar pengaruhnya, lingkungan masyarakat terutama, selain di keluarga dan sekolah, lingkungan masyarakat merupakan lingkungan ketiga dalam proses pembentukan kepribadian seseorang sesuai keberadaannya. Namun pendidikan yang ada di lingkungan kita belum mampu memberikan nilai lebih sehingga mampu membuat seseorang menjadi mudah menghadapi masa depannya dengan baik. Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan.
Untuk memenuhi sumber daya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sedangkan salah satu untuk mendapatkan pendidikan dengan nilai nilai mulia, berakhlak, kreatif dan memiliki karakter sesuai budaya bangsa dapat diperoleh melalui penggunaan bahasa yang baik. Seperti yang ditekankan pada pernyataan diatas, bahasa ternyata memiliki peranan dalam pengelolahan dan menciptakan generasi penerus yang memiliki nilai lebih. Dengan alasan itulah perlunya menganalisa lebih jauh bagaimana peran bahasa dalam pendidikan karakter.
Bahasa selalu ada bersama dengan manusia. Ungkapan itu, bukan sekedar ungkapan tanpa dasar. Dasar yang sering disebutkan ialah bahwa bahasa merupakan sarana komunikasi antar-manusia. Bahkan dapat pula dikatakan tanpa ada manusia lain pun seseorang dapat berbahasa. Manusia dapat berpikir dalam lamunannya dan dalam mimpinya sehingga dasar yang paling utama sebenarnya adalah bahasa merupakan bagian dari kehidupan manusia. Setiap anak manusia yang normal pertumbuhan pikirannya akan belajar bahasa pertama atau bahasa ibu dalam tahun-tahun pertama dalam hidupnya, dan proses ini terjadi hingga kira-kira umur 5 tahun. Sesudah itu, pada masa pubertas atau kira-kira 12- 14 tahun hingga menginjak dewasa atau kira-kira umur 18- 20 tahun.
Dari segi fonologi, gramatikal, dan semantik kemampuan seorang anak dalam memahami maksud dan tujuan yang disampaikan oleh penutur berbeda-beda. Dilihat dari segi neurologi bahasa, proses dan perilaku berbahasa lebih bersifat dua arah, yaitu antara penutur dan pendengar yang semua dikendalikan oleh otak yang merupakan alat pengatur dan pengendali gerak semua aktivitas manusia. Pada otak manusia ada bagian-bagian yang sifatnya disebut manusiawi, seperti bagian-bagian yang berkenaan dengan pendengaran, ujaran, dan pengontrolan alat ujaran (Chaer, 2003: 116).
Anak-anak dalam menguasai bahasa tentu lebih mudah memahami dan membuat kalimat dalam bahasa ibu dibandingkan dengan menguasai bahasa kedua (bahasa Inggris, misalnya). Hal pertama yang dikuasai oleh anak-anak dalam berbahasa adalah komponen tata bunyi, tata kata, dan tata kalimat yang merupakan proses pemerolehan berbahasa (Chaer, 2003). Dalam memeroleh bahasa anak tidak saja melalui fitur-fitur natural (alamiah), tetapi juga ditentukan oleh perkembangan kognitif.
Pemerolehan bahasa kedua khususnya bahasa asing yang dilakukan di kelas tentunya lebih banyak dilakukan dengan sistem pembelajaran. Pembelajaran bahasa Inggris mulai jenjang sekolah dasar (SD) memberikan kesempatan kepada peserta didik sejak dini untuk belajar bahasa Inggris . Pemerintah secara khusus memberikan perhatian pada pembelajaran bahasa Inggris dengan memberlakukan kurikulum 2004 melalui kurikulum muatan lokal, tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Peraturan Menteri Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Peraturan Menteri Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompentensi Kelulusan (Chodidjah, 2007: 5).
Aktivitas pembelajaran berbasis bahasa secara mendasar akan bergantung pada pemahaman siswa terhadap kosakata. Para siswa harus mempunyai akses pada makna kata yang digunakan oleh guru dan lingkungan sekitarnya. Keterbatasan pemahaman kosakata siswa mengakibatkan terhambatnya pencapaian kompetensi berbahasa. Mengacu pada penguasaan bahasa kedua pada pendidikan formal, yaitu melalui pendidikan di sekolah, menurut Ellis (dalam Chaer. 2003: 243), ada dua tipe pembelajaran bahasa, yaitu tipe naturalistik dan tipe formal di dalam kelas. Tipe naturalistik bersifat alamiah, tanpa guru dan tanpa sengaja. Pembelajaran berlangsung dalam kehidupan keluarga dan kehidupan masyarakat. Tipe kedua bersifat formal dalam kelas, namun kenyataannya hasilnya masih belum memuaskan. Penyebabnya banyak faktor yang memengaruhi meskipun telah diadakan berbagai penataran dan pelatihan yang diberikan pada tenaga pendidik. Rivers (dalam Nunan, 1991: 117) menyatakan bahwa kosakata merupakan hal yang penting agar dapat menguasai bahasa kedua (second language). Tanpa kosakata yang luas, seseorang tidak dapat menggunakan struktur dan fungsi bahasa dalam komunikasi secara komprehensif. Tarigan (1986: 2) menyatakan bahwa kualitas dan kuantitas berbahasa seseorang bergantung pada kualitas kosakata yang dimiliki. Makin kaya kosakata yang dimilikinya maka makin besar pula kemungkinan ia terampil berbahasa.
Dalam pemerolehan bahasa, baik bahasa ibu maupun bahasa asing, diperlukan proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural (alami) dan belajar di dalam kelas, yaitu siswa yang diajar oleh guru. Apabila diperhatikan dengan saksama, ditemukan kesalahankesalahan yang dibuat siswa. Kesalahan tersebut disebabkan, antara lain, oleh ketidakpahaman siswa terhadap bahasa kedua, khususnya bahasa Inggris dalam pembelajaran.
Bahasa Inggris adalah salah satu media komunikasi yang berbentuk lisan maupun tertulis. Bisa atau mampu menggunakan bahasa Inggris, merupakan tuntutan hidup saat ini karena hampir semua media elektronik yang kita gunakan, diprogram dengan menggunakan bahasa Inggris, Contoh kecilnya adalah Hand Phone dan Komputer. pelajaran Bahasa Inggris memiliki empat skill atau keterampilan yaitu: Reading (Membaca), Speaking (Berbicara), Writing (Menulis) dan Listening (Mendengarkan).
Pembelajaran Bahasa Inggris yang konvensional cenderung berpusat pada guru dan mengabaikan keberadaan peserta didik. Pembelajaran bahasa Inggris yang baik tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif namun juga menanamkan nilai pada diri peserta didik. Nilai-nilai pendidikan karakter bangsa pada mata pelajaran bahasa Inggris adalah bersahabat/komunikatif, peduli sosial, rasa ingin tahu, demokratis, mandiri, kerja keras, disiplin, dan senang membaca. Nilai-nilai pendidikan karakter bangsa dapat ditanamkan pada diri peserta didik dengan pembelajaran bahasa Inggris secara kontekstual. Konsep constructivism, inquiry, dan questioning relevan dengan nilai-nilai mandiri, kerja, dan rasa ingin tahu. Sedangkan, nilai-nilai bersahabat/ komunikatif, peduli sosial, disiplin, gemar membaca, dan demokratis dapat ditanamkan dengan konsep learning community, modeling, reflection, dan authentic assessment.  Prosedur pembelajaran bahasa Inggris yang berkarakter adalah membuat peserta didik mengkonstruksi pengetahuan bahasa Inggris secara aktif, memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, berdiskusi dalam kelompok, dan bekerja dalam kelompok. Di samping itu, guru menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, melakukan refleksi di akhir pertemuan, dan melakukan penilaian proses.

2.     PERMASALAHAN
Penyaji mencoba menganalisis permasalahan tentang pengaruh bahasa terhadap pendidikan karakter antara lain yaitu;
1. Bagaimana kaitan bahasa Inggris dalam pendidikan karakter?
2. Bagaimana pengaruh bahasa Inggris dalam pendidikan karakter?

3.     TUJUAN
Tujuan dalam penelitian ini untuk memberikan informasi pada masyarakat tentang pentingnya bahasa sebagai salah satu faktor penanaman pendidikan karakter.

BAB II
PEMBAHASAN

1.    Karakteristik Mata Pelajaran Bahasa Inggris
Di dunia, bahasa Inggris merupakan bahasa kedua yang pertama dipelajari. Indonesia termasuk salah satu negara yang menjadikan bahasa Inggris penting untuk dipelajari. Hampir seluruh sekolah di Indonesia, dari mulai SD sampai dengan perguruan tinggi, menjadikan bahasa Inggris sebagai kurikulum pelajaran. Suatu mata pelajaran mempunyai karakteristik yang mungkin sangat berbeda dengan karakteristik mata pelajaran yang lain. Sebagai contoh, Bahasa Inggris mempunyai karakteristik yang berbeda dengan mata pelajaran Biologi. Oleh karena itu, agar dapat mengajar dengan baik, guru memerlukan informasi tentang karakteristik mata pelajaran Bahasa Inggris.
Mata pelajaran Bahasa Inggris mempunyai karakteristik yang berbeda dengan mata pelajaran eksakta atau mata pelajaran ilmu sosial yang lain. Perbedaan ini terletak pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Hal ini mengindikasikan bahwa belajar Bahasa Inggris bukan saja belajar kosakata dan tatabahasa dalam arti pengetahuannya, tetapi harus berupaya menggunakan atau mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kegiatan komunikasi. Seorang siswa belum dapat dikatakan menguasai Bahasa Inggris kalau dia belum dapat menggunakan Bahasa Inggris untuk keperluan komunikasi, meskipun dia mendapat nilai yang bagus pada penguasaan kosakata dan tatabahasanya. Memang diakui bahwa seseorang tidak mungkin akan dapat berkomunikasi dengan baik kalau pengetahuan kosakatanya rendah. Oleh karena itu, penguasaan kosakata memang tetap diperlukan tetapi yang lebih penting bukan semata-mata pada penguasaan kosakata tersebut tetapi memanfaatkan pengetahuan kosakata tersebut dalam kegiatan komunikasi dengan Bahasa Inggris.
Dalam belajar bahasa, orang mengenal keterampilan reseptif dan keterampilan produktif. Keterampilan reseptif meliputi keterampilan menyimak (listening) dan keterampilan membaca (reading), sedangkan keterampilan produktif meliputi keterampilan berbicara (speaking) dan keterampilan menulis (writing). Baik keterampilan reseptif maupun keterampilan produktif perlu dikembangkan dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris.

2.    Kedudukan dan fungsi bahasa Inggris dalam pendidikan karakter
Bahasa adalah sebuah bentuk budaya dasar yang dihasilkan oleh manusia dan untuk memanusiakan manusia pada setiap generasi dalam suatu masyarakat bahasa. Di samping itu, bahasa dikatakan sebagai budaya dasar karena menjadi alat utama pembentuk berbagai wujud dan jenis budaya lain. Dengan demikian, perbedaan bahasa menjadi penanda permukaan adanya perbedaan sistem dan pola budaya. Lebih lanjut dapat dikatakan pula bahwa perbedaan sistem dan pola budaya menjadi penanda perbedaan karakteristik, sifat, atau watak suatu masyarakat bahasa. Secara singkat ingin dikatakan bahwa tidak ada dua bahasa atau dua budaya yang sama di muka bumi ini.
Bahasa selain menunjukkan budaya tetapi juga kecerdasan personal seseorang (intelegensi linguistic). Bahasa mempunyai peranan yang sangat penting dalam hidup manusia. Manusia sudah menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi antarsesamanya sejak berabad-abad silam. Bahasa hadir sejalan dengan sejarah sosial komunitas-komunitas masyarakat atau bangsa. Pemahaman bahasa sebagai fungsi sosial menjadi hal pokok manusia untuk mengadakan interaksi sosial dengan sesamanya. Keraf (1980:03) yang menyatakan bahwa bahasa apabila ditinjau dari dasar dan motif pertumbuhannya, bahasa berfungsi sebagai  :
1)    alat untuk menyatakan ekspresi diri,
2)    alat komunikasi,
3)    alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, dan
4)    alat untuk mengadakan kontrol sosial.
5)    Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi.
6)    Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain.
7)    Selain itu, pembelajaran bahasa juga membantu peserta didik mampu mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat, dan bahkan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
Tujuh fungsi yang diungkapkan Keraf diatas, salah satunya menunjukkan cara yang bisa dikatagorikan sebagai lingkungan pendidikan yaitu masyarakat. Didalam lingkungan daerah yang terisolir maupun daerah yang jauh dari pusat kota, pendidikan diluar sekolah tentu saja yang berada dalam masyarakat sangat dibutuhkan, karena bagi daerah seperti ini lingkungan pendidikan yang menediakan ilmu pengetahuan, keterampilan, atau performans yang berfungsi dapat menggantikan pendidikan dasar utama. Pada ketetapan MPR nomor IV/MPR/1988 tentang garis garis besar haluan Negara pada bab IV yaitu pola umum pelita ke lima bagian pendidikan berbunyi sebagai berikut: “ Pendidikan merupakan proses budaya, untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia” pendidikan berlangsung seumur hidup dan dapat dilaksanakan didalam Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, karena itu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Sumarsono dan Paini Partana dalam Sosiolinguistik (2006, hal) menyatakan bahwa bahasa sebagai produk sosial atau produk budaya. Bahasa tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan manusia. Sebagai produk sosial atau budaya, bahasa berfungsi sebagai wadah aspirasi sosial, kegiatan dan perilaku masyarakat, dan sebagai wadah penyingkapan budaya termasuk teknologi yang diciptakan oleh masyarakat pemakai bahasa itu. Zainuddin juga mengutaran bahwa Bahasa diperoleh dengan belajar, maksudnya tiap orang belajar bahasa dari semenjak anak anak, dan lingkungan yang terdekat dan mampu memberikan pendidikan bahasa salah satunya lingkungan keluarga. (1985:19)

3.    Penanaman pendidikan karakter melalui mata pelajaran Bahasa Inggris
Seiring perkembangan zaman yang terus berubah, memaksa pendidikan yang dinilai mempunyai peran besar harus pandai berinovasi, Hamidjojo mengemukakan hal – hal yang memaksa adanya inovasi pendidikan antara lain
1.    Besarnya eksploasi pendidikan
2.    Melonjaknya anspirasi dikalangan masyarakat luas, menambah makin berat dan besarnya keperluan penduduk yang lebih baik
3.    Kurangnya sumber
4.    Kelemahan system
Oleh sebab perihal tersebut, adanya inovasi dalam perbaikan pendidikan di negara kita antara lain dengan adanya pendidikan karakter, Koesuma dalam artikelnya menyatakan tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Bagi Foerster, karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter seperti inilah, kualitas seseorang secara pribadi mampu diukur.
Pendidikan berbasis karakter merupakan salah satu upaya dalam pembaharuan di dunia pendidikan, besar pengaruh penanaman karakter pada anak dianggap sebagai hal pokok. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tertentu bila ditinjau dari segi tujuan atau kompetensi yang ingin dicapai, ataupun materi yang dipelajari dalam rangka menunjang tercapainya kompetensi tersebut. Ditinjau dari segi tujuan atau kompetensi yang ingin dicapai, mata pelajaran bahasa Inggris ini menekankan pada aspek keterampilan berbahasa yang meliputi keterampilan berbahasa lisan dan tulis, baik reseptif maupun produktif. Secara umum bahasa digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi. Tentu saja proses komunikasi akan berjalan dengan baik kalau kedua pihak yang berkomunikasi dibekali dengan pengetahuan tentang bahasa dan keterampilan berbahasa. Sebagai contoh, untuk dapat berbicara bahasa Inggris dengan baik, dalam arti dapat dipahami oleh orang lain, seseorang perlu menguasai kosakata dan tata bahasa yang berlaku di antara penutur asli bahasa Inggris . Begitu pula orang yang diajak bicara juga harus menguasai kosakata dan tata bahasa tersebut. Dengan penguasaan kosakata dan tata bahasa ini keduanya dapat saling memahami apa yang sedang dibicarakan. Selain itu mereka juga perlu dibekali dengan pengetahuan tentang budaya penutur asli bahasa Inggris agar tidak melakukan kesalahan kultural.
Karakteristik bahasa inggris:
•    Bahasa Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis.
•    Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya.
•    Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.
•    Keempat keterampilan inilah yang digunakan untuk menanggapi atau menciptakan wacana dalam kehidupan bermasyarakat.
Oleh karena itu, mata pelajaran Bahasa Inggris diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut agar lulusan mampu berkomunikasi dan berwacana dalam bahasa Inggris pada tingkat literasi tertentu.
Tingkat literasi:
•    Tingkat literasi mencakup performative, functional, informational, dan epistemic.
•    Pada tingkat performative, orang mampu membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara dengan simbol-simbol yang digunakan.
•    Pada tingkat functional, orang mampu menggunakan bahasa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti membaca surat kabar, manual atau petunjuk.
•    Pada tingkat informational, orang mampu mengakses pengetahuan dengan kemampuan berbahasa
•    Pada tingkat epistemic orang mampu mengungkapkan pengetahuan ke dalam bahasa sasaran (Wells,1987).

Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter, (1) Keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. (2) Koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. (3) Otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain.(4) keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster, memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan interior.” Karakter inilah yang menentukan format seorang pribadi dalam segala tindakannya. Pendapat Foerster ini semakin mendukung program pendidikan yang tidak hanya berfungsi sebagai lembaga yang memberdayakan anak dalam pengertian kecerdasan dan keterampilan melainkan program pendidikan juga menadarkan tentang pentingnya menjaga moralitas dan peningkatan kemampuan pertimbangan rasional dalam pengambilan keputusan. Apabila segala fenomena tentang pentingnya pendidikan tidak terealisasi dengan baik, maka keberhasilan pemperhati pendidikan karakter akan mengalami kegagalan. Dampak yang dinilai sangat mempengaruhi pendidikan anak adalah Lingkungan, baik keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Dan pemberian pendidikan akan tersampaikan dengan baik jika penggunaan bahasa diberikan dengan tepat. Bahasa yang sopan,baik dan tidak mampu membuat anak merasa tertekan. Bahasa dapat pula berperan sebagai alat integrasi sosial sekaligus alat adaptasi sosial, hal ini mengingat bahwa bangsa Indonesia memiliki bahasa yang majemuk. Kemajemukan ini membutuhkan satu alat sebagai pemersatu keberseragaman tersebut. Di sinilah fungsi bahasa sangat diperlukan sebagai alat integrasi sosial. Bahasa disebut sebagai alat adaptasi sosial apabila seseorang berada di suatu tempat yang memiliki perbedaan adat, tata krama, dan aturan-aturan dari tempatnya berasal. Proses adaptasi ini akan berjalan baik apabila terdapat sebuah alat yang membuat satu sama lainnya mengerti, alat tersebut disebut bahasa. Dari uraian ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa bahasa merupakan sesuatu yang sangat penting bagi manusia.
Kartomiharjo (1982:1) menguraikan bahwa salah satu butir sumpah pemuda adalah menjunjung tinggi bahasa persatuan,bahasa Indonesia. Dengan dengan demikian bahasa dapat mengikat anggota-anggota masyarakat pemakai bahasa menjadi masyarakat yang kuat, bersatu, dan maju. Lalu bagaimana bahasa mulai bias dikatakan berpengaruh terhapa proses pemberian pendidikan karakter, ada lima slogan yang dikumandangkan oleh para pengamat AM/Moulton, 1961, dalam “ International Congress of Linguistic”, yakni: (a) Bahasa adalah Lisan, bukan tulisan (b) Bahasa adalah seperangkat kebiasaan (c) yang diajarkan adalah bahasa, bukan tentang bahasa (d) bahasa adalah yang diajarkan oleh si penutur asli (e) bahasa adalah berbeda beda. (Subana,2000:23). Dari slogan trsebut ada satu hal yang dianggap berpengaruh penting terhadap pendidikan karakter yaitu bahasa adalah seperangkat kebiasaan, kebiasaan bisa dikatakan adat, dalam situs Wikipedia menyebutkan bahwa adat ialah Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi kerancuan yang menimbulkan sanksi tak tertulis oleh masyarakat setempat terhadap pelaku yang dianggap menyimpang.
Stevick dalam Sudana menyatakan maksud dari pengajaran bahasa adalah, meningkatkan harga diri, menumbuhkan pikiran positif, meningkatkan pemahaman diri, menumbuhkna keakraban dengan orang lain, dan mampu menemukan kelebihan dan kelemahan diri (2009:28) dari pernyataan tersebut maksud pengajaran bahasa berorientasi pada pemerolehan nilai nilai sesuai pendidikan karakter yaitu, menumbuhkan pikiran positif dan menumbuhkan keakraban dengan orang lain.

BAB III
PENUTUP

Simpulan
Setelah membaca dan memahami serta menganalisis Pengaruh dan keterkaitan bahasa terhadap pendidikan karakter dapat disimpulakan sebagai berikut:
1.    Bahasa merupakan suatu hal yang dianggap perlu untuk dilaksanakan pada lingkungan pendidikan, karena Pemerolehan bahasa dikaitkan dengan penguasaan sesuatu bahasa tanpa disadari atau dipelajari secara langsung yaitu tanpa melalui pendidikan secara formal untuk mempelajarinya, sebaliknya memperolehnya dari bahasa yang dituturkan oleh ahli masyarakat di sekitarnya.
2.    Bahasa diberikan pada lingkungan pendidikan, dan dimulai dari usia anak anak, sehingga penanaman nilai nilai yang diberikan sejak anak anak dinilai lebih maksimal dari pada diberikan pada usia dewasa.

Saran
Dari makalah ini, harapan untuk selalu memberikan pendidikan berbasis karakter melalui pengajaran bahasa agar terus ditingkakan dan dijadikan suatu rutinitas dalam segala lingkungan pendidikan. Karena terselenggaranya pendidikan di tiga lingkungan sangat memungkinkan penggunaan bahasa memiliki pengaruh yang besar.
Dari cerminan tersebut perlunya pengajaran bahasa dan kaitannya dengan pendidikan dinilai mampu memberikan hal positif dalam pembentukan karakter seseorang melalui pendidikan berbasis karakter.
Mempelajari dan mengembangkan bahasa dalam pendidikan sangatlah perlu ditingkatkan, oleh sebab itu kita sebagai pemerhati pendidikan mempunyai peran penting dalam menanamkan nilai nilai positif serta pembentuka karakter seseorang melalui bahasa yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Adat

Bandung: Angkasa.Tarigan, Henry Guntur dan Djago Tarigan. 1988. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa.

http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/01/karakteristik-mata-pelajaran-bahasa.html

http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/pendidikan/umum1.htm

http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/01/karakteristik-mata-pelajaran-bahasa.html

Mackey, William F. 1987. Ilmu Bahasa: Pengantar (seri ILDEP). Yogyakarta: Yayasan Kanisius.

http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris

Ratna Megawangi. 2008. Pendidikan Karakter. http//www. Jakarta
Indomedia.Com/intisari/1998/September/bing.htm – 18k.
Kosasih, E. 1998. Kapan Anak Belajar Bahasa Inggris. http ://www.
Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) . Bandung: CV Nuansa Mulia.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. 2005 tentang Sistem

untuk mendownload file silakan klik dibawah ini:

Makalah Pengaruh dan Keterkaitan Bahasa Terhadap Pendidikan Karakter

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s